Headlines News :

BERITA TERKINI

Semakin Mahalnya Harga Kursi Parlemen

Written By Sayed Mahdi on Sabtu, 19 April 2014 | 10.57

Oleh : SYAHZEVIANDA

''Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan mendapat''. Nah ungkapan itu kiranya dapat dijadikan referensi spesifik bagi kita bersama untuk menyimpulkan sebuah cerita kalah atau menang dari sebuah pencapaian dalam menggapai sebuah kursi parlemen oleh para kandidat dipentas demokrasi Pileg 2014.

Kini jawaban-jawaban itu hampir jelas tergambar siapa yang menjadi wakil kita untuk dititipkan di gedung terhormat dimata rakyat, setelah melalui proses yang begitu mekanis, panjang dan penuh ranjau tapi menggiurkan tersebut. Walaupun secara resmi belum diumumkan siapa-siapa pengisi kursi parlemen di berbagai tarap oleh Institusi Pelaksana khusus yang telah ditunjuk oleh Undang-Undang, tapi setidaknya para kompetitor handal tersebut sudah punya coretan hitungan angka berapa suara akurat yang berhasil terhimpun dari masing-masing TPS, sehingga kalkulasi itu dapat membentuk sebuah keyakinan bahwa kursi untuk mereka di parlemen memang sudah pasti tersedia.
Setelah pesta berlangsung, letihlah yang tinggal, tak ubahnya seperti usainya penyelenggaraan Pemilu Legislatif lalu.

Lumayan bagi yang memang benar-benar handal sehingga tercipta sebuah kursi olehnya. Nah ada juga saudara-saudara kita yang gagal mendapat kursi dan yang masih belum puas terhadap hasil kesimpulan dari sebuah cerita PILEG 2014. Rona kekecewaan itu tak gampang untuk dibendung, mental dan psikologis mereka saat ini sedang mengalami terpaan kenyataan pahit. Selain itu efek sosial yang didera juga menjadikan para caleg yang gagal semacam perlu untuk dijemput semangat, apalagi ternyata yang kalah adalah sosok yang dicintai masyarakat, cemoohan dan cibiran memang merupakan hal yang terelakkan.

Tinggal lagi bagaimana caleg yang belum berhasil tersebut mengatur ritme tentang emosionalnya untuk menghadapi dan menanggapi atas ketidakberhasilan tersebut, konsekwensi dari sebuah kompetisi memang harus siap kalah atau menang. Kali ini sebelum menjalankan 3 fungsi di Gedung DPR, ternyata managerial dari diri pribadi caleg diuji terlebih dahulu, para caleg diuji sebelum duduk di parlemen menjalankan fungsi legislating, budgeting dan controling, dengan seberapa besar keuletannya untuk meyakinkan para pemilih yang tetap setia padanya sampai dengan di bilik suara di TPS pada hari ''H''.

Bermacam ragam tipikal pemilih dijumpai ketika itu,baik suara sumbang, suara bimbang bahkan suara berseberangan itu mulai mendera para jagoan demokrasi dengan performa gemilang. Dari hasil itu pula kini para Caleg semakin tau siapakah yang memang benar-benar terlihat dan teruji kesetiaannya, kini semakin tau siapa orang yang menusuk dari belakang, siapa yang memberikan jalan menuju gedung parlemen. Tak terpungkiri kini pemilih-pemilih kita semakin melek politik, harus diakui memang pemilih cerdas dan setia itu masih ada dengan menentukan nasibnya menuruti kata hati mulia untuk 5 tahun mendatang siapakah sosok yang dianggap mampu mengemban amanah-amanah rakyat. Ya benar, dengan bismillah mereka tetap menggunakan hak pilih mereka menuruti kata hati itu masih bertebaran walaupun dengan skala tertentu saja.

Tak juga ditutup-tutupi oleh kita kalau bagian dari pemilih kita diluar sana masih saja banyak yang khilaf melihat sejumlah recehan rupiah demi menaruh harga dirinya dan marwah. Entah apa yang salah dari fundamental politik negeri ini, apa memang sistem yang mengajarkan pada rakyat yang tak jauh lebih hina dari mengajarkan politik bodoh pada rakyatnya, sehingga warisan budaya bodoh yang tereduksi kian hari semakin terasa hidup dan berkembang jelang pelaksanaan pesta demokrasi sampai dengan saat in.

Iya ''uang'', uang memang sering dijadikan senjata ampuh untuk mengelabui bahkan membutakan kata hati rakyatnya dalam menentukan nasibnya sendiri untuk 5 tahun kedepan. Tak juga kita harus persalahkan Pemilih-pemilih tak berprinsip seperti itu, banyak faktor yang menentukan timbulnya hal-hal seperti tersebut diatas. Gejala sosial dimasyarakat sering dijadikan alasan kuat mengapa rakyat seperti terlihat bodoh jika dihadapkan dengan rupiah dalam menentukan pilihannya.

Semakin macetnya perputaran roda ekonomi yang semakin hari semakin tidak menunjukkan angka stabilitas ekonomi kerakyatan juga merupakan faktor kunci yang dampaknya sangat signifikan bagi kesehatan politik bangsa ini. Akibat dari ulah para elite sebelumnya lah yang mengajarkan budaya politik ini semakin tidak beretika yang menciptakan kebencian bagi rakyat yang suka memvonis, ekses yang sangat besar inilah hal yang dapat merusak persendian demokrasi bangsa ini semakin keropos dari kepercayaan, sehingga kebencian dan kejenuhan itu selalu menghantui dan semakin meradang dipikiran rakyat, yang seharusnya budaya seperti itu tidak perlu dipertontonkan pada rakyat yang masih lugu politik.

Kalau rakyat kita sudah bermental politik uang, mau jadi apa bangsa ini?, yang secara tersirat merupakan PR yang berat bagi para elite saat ini dan nantinya untuk mencari anternatif yang bersifat solutif, komunikatif dan intensif. Jika semakin dilakoni dan tidak dicari solusi yang tepat, secara simultan kedepan akan membuat kewalahan para elite untuk melunakkan hati para pemilih yang telah terjerumus.

Nah, yang menjadi pertanyaan besar adalah, siapa yang patut dipersalahkan jika memang dinamika seperti ini sudah mendarah daging di sistem perpolitikan negara ini semakin menunjukkan angka degradasi moral politik bermental uang. Tak tertutup kemungkinan akan melahirkan embrio-embrio baru nantinya yang jauh lebih parah dibandingkan yang saat ini terjadi, tak ada yang sanggup membendung ini semua jika tak ada kesatria yang mampu memutuskan sirkulasi politik yang seperti ini.

Kini cikal bakal insan tak berdosa semakin lama semakin tumbuh dan berkembang, mereka yang belum mengerti sama sekali dinamika politik yang seharusnya menjadi cita-cita demokrasi bangsa ini, betapa pentingnya mereka generasi muda untuk memahami sebuah sistem berdemokrasi yang baik dan benar. Sejak dinilah mereka diajarkan pendidikan politik yang baik yang bermental juara, bukan berikan kesempatan tangan-tangan kotor yang penuh kemunafikan yang menjamah dan mengobok-obok pikiran generasi baru penerus bangsa akan hal-hal tak bermoral dan etika berpolitik yang kurang bermartabat tersebut.

Kita selaku intelektualis yang memahami seluk-beluk dan seiring jalan mengamati perkembangan politik bangsa ini, Besar harapan kita pada kesatria tangguh tersebut menggiring demokrasi kita agar semakin baik lagi. Sudah saatnya menyelamatkan generasi kita saat ini untuk kedepan agar mereka tidak terbelenggu dalam sirkulasi politik yang kurang tepat untuk diwariskan pada anak cucu kita nanti, sekaligus menempa mental-mentalnya untuk siap berargumentasi dengan dinamika yang ada demi kepentingan rakyat indonesia dimasa mendatang. Cukup kita saja yang merasakan keresahan akibat dinamika politik seperti saat ini yang terus menerus tersandung masalah etika berpolitik yang penuh tanda tanya ini.

Uang memang bukan merupakan jaminan bagi siapa saja yang berkecimpung pada sebuah kompetisi politik dalam perebutan singgasana tahta terhormat di gedung parlemen, walaupun banyak dari mereka yang saat ini tidak percaya sama sekali kalau mendapatkan kursi itu tidak mesti dengan uang, tapi sayang orang-orang baik itu sering jatuh mentalnya berhadapan dengan ''politisi beruang''.

Politik uang adalah politik jebakan, tanpa disadari banyak yang terjebak hanya dengan mengandalkan uang tetapi tidak cermat dan piawai memahami karakter pemilih terlebih dahulu, berakibat pada kurang beruntung dan pupus baginya untuk mendapatkan sebuah pengharapan.

Keteledoran para caleg yang bermodal besar bermental rupiah, ternyata masih saja dapat dilumpuhkan oleh idealisme yang ternyata masih bertahan ditengah kehidupan masyarakat heterogen yang memang dari hati kecil menginginkan perubahan kearah yang lebih baik lagi tatanan kehidupan masyarakat.

Dibalik itu juga, masih saja terus dimanfaatkan oleh kepintaran para pemilih yang bermental rupiah, tanpa disadari siapapun yang membagi-bagi uang, sembako dan lainnya, dengan sangat senang hati akan mereka terima, dengan bermodal janji dan memberi keyakinan akan memilihnya. Konsekwensi untuk dipilih itu bukan sebuah jaminan dan merupakan urusan belakang, terpenting adalah ''wani piro''. Alhasil setelah dilakukan perhitungan suara, relevansi tidak berimbang itu langsung berubah menjadi kekecewaan dan kekesalan besar. Penyesalan selalu datang belakangan, hasil yang jauh berbeda dengan yang diharapkan seperti apa yang telah dinegosiasikan sebelumnya itu rupanya menyakitkan.

Miris, jika semata-mata nominal angka rupiah hanya dapat dijadikan senjata ampuh untuk mengelabui para pemilih. Percayalah dibalik beragam tipe masyarakat yang kini semakin melek politik tetap tersisa orang-orang yang memang memandang politik dengan hati nurani yang sama sekali kebal terhadap gesekan-gesekan politik materialistis tersebut, komitmen hati mereka tidak pernah membodohi hati nurani mereka untuk menitipkan ''tong kosong nyaring bunyinya'' sebagai wakil mereka di Gedung Parlemen.

Wajar saja kalau budget yang dikeluarkan untuk berebut kursi DPR itu sampai menembus angkat yang sangat fantastis, semua itu sinergis dengan tingginya animo masyarakat yang masih ingin merasakan bagaimana sih rasanya dapat uang muka (down payment) dari caleg yang belum jelas kursinya itu di DPR, walaupun banyak hal yang melatarbelakangi maraknya aksi bagi-bagi upeti yang mempengaruhi semakin tingginya cost politik.

Ternyata kalkulasi politik dimata sebagian pemilih kurang bijak itu semakin luar biasa. Betapa tidak, misalkan saja jika ada 3 orang caleg di level yang sama memberikan uang pada salah seorang pemilih masing-masing sebanyak Rp. 100.000,- melalui Tim suksesnya, maka total uang terkumpul pada hari jelang pemilihan saat itu sejumlah Rp. 300.000,- , belum lagi ditambah sembako, kain sarung, alat-alat pertanian dan lainnya yang sifatnya atas nama pribadi. Estimasi yang timbul dibenak mereka adalah : ''kapan lagi terima uang dari caleg yang jumlahnya lumayan itu, kalau tidak pun 5 tahun kedepan si-caleg terpilih lupa sama kita dan belum tentu bisa berbuat apa-apa''.

Anggapan bodoh seperti inilah yang tanpa disadari ''hak menyuarakan aspirasi'' pemilih tak-cermat tersebut telah dibisukan dengan sejumlah nominal-nominal angka tersebut, disitulah marwah kita langsung dapat terjengkal oleh politikus akibat dari saudara-saudara kita yang masih khilaf berhadapan dengan uang.

Bagi pemilih yang sudah mendapatkan-DP sebelum memilih, jangan berharap banyak ketika ''si-ATM jalan-jalan''  tersebut terpilih dan berhasil mendapatkan kursi empuk impian 5 tahun untuk ''BERBUAT BANYAK'' pada kita nantinya, karena ketika itu dirinya sudah menghabiskan banyak uang untuk dibagikan supaya terpolih. Karena kan sudah diberikan DP (uang muka) sebelumnya, si-caleg terpilih pun dengan suara lantangnya mengatakan : ''SUKA-SUKA SAYA DONG, SAYA SUDAH HABIS BANYAK UANG, SAYA MAU KEMBALIKAN MODAL SAYA DULU, SAMA UNTUK MODAL UNTUK PEMILU 2019''. Pada siapa kita hendak mengadu wahai saudaraku? Kalau sudah begini siapa yang harus disalahkan? Ini jelas kebodohan dikanca politik yang membudaya, paling kita cuma bisa mencercanya saja, itu tidak cukup puas untuk menghilangkan kekecewaan, atau paling tidak memilihnya pada Pemilu 2019. Semua itu tidak cukup untuk kita jadikan sanksi sosial.

Buat apa lagi, strategi berbeda akan diterapkan oleh politikus yang telah mahir membaca situasi dan alur pikir masyarakat yang masih masih kecanduan dengan menerima ''uang 5 tahun sekali'' dari oknum caleg-caleg yang jumlahnya berpariasi, kalau kita terus terpeleset diatas uang recehan. Lalu kapan kita akan bercerita program dan pembangunan berkelanjutan di kampung kita, kalau terus-menerus kita diwakili oleh orang-orang yang dipilih dengan cara tidak fair play.

Percayalah, nasib kita 5 tahun mendatang kita tentukan sendiri dari, oleh dan untuk kita. Pun demikian dapat retak dan lumpuh karena kita, yang selalu melakukan pembiaran bahkan meng-iyakan dari apa yang salah. Perlu kiranya bersama kita menyimpulkan ulang cerita politik yang perlu pembenahan ekstra ini untuk kelanjutan nasib demokrasi bangsa demi kepentingan rakyat, agar eksistensi tatanan politik kita semakin terarah dan tak terbelenggu pada politik tak bermoral yang semakin krusial, sehingga dampak terbesarnya adalah tak lain untuk kesejahteraan rakyat dan stabilitas ekonomi masyarakat semakin membaik.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Samudra Kota Langsa

Bachtiar Nasir : Selangkah Lagi Jokowi Membuat Indonesia Kafir

Written By Sayed Mahdi on Kamis, 17 April 2014 | 22.37

JAKARTA | STC - Betapa masygulnya, Sekretaris Jend Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustadz Bachtiar Nassir mewanti-wanti umat Islam Indonesia mengenai sepak terjang Jokowi. Beliau berpendapat bahwa Jokowi selalu mewariskan pemimpin kafir dan selangkah lagi dapat membuat Indonesia Kafir.

“Jokowi emang hebat, di Solo mewariskan pemimpin KAFIR, di Jakarta juga mewariskan pemimpin KAFIR. Selangkah lagi akan KAFIR kan Indonesia,” jelas Ustadz Bachtiar dalam akun Twitternya @BachtiarNasir, Sabtu malam (15/03).

Ketua Alumni Madinah Islamic University se-Indonesia ini juga menyatakan bahwa orang Islam yang tidak menggunakan pandangan Islam dalam memilih pemimpin, berarti sedang pensiun Keislamannya.

“Orang Islam yang tidak gunakan cara pandang Islam dalam memilih pemimpin, berarti sedang pensiun dari Islam,” tulisnya. Ustadz kelahiran 26 Juni 1967 itu juga menyatakan bahwa Islam adalah Harga mati. ” Berislam sampai MATI, MATI bersama Islam, Ini harga MATI,” tegas Pimpinan AQL Islamic Center itu.

Jokowi yang sekarang dielu-elukan itu, sejatinya hanya membuat musibah, bagi Muslim Indonesia, bukan membuat kehidupan menjadi lebih tenang. Tetapi, kalangan Muslim banyak yang menjadi korban media, yang memang sudah disetting membuat berpikirnya kalangan Muslim, berubah dan terbalik. Mereka percaya bahwa Jokowi itu, manusia suci, dan sangat ‘mumpuni’, dan akan membebaskan Indonesia dari berbagai belitan masalah.

Bangsa Indonesia berulangkali menjadi korban dari  opini media, yang menggiring dan mengarahkan mereka. Seperti, ketika sesudah Soeharto lengser, media mengangkat Megawati sebagai ‘ratu’ piningit, dan akan menyelamatkan Indonesia dari krisis. Sehingga, ketika berlangsung pemilu l999, PDIP menang, dan kemudian Mega menjadi presiden.

Semua itu, tak terlepas dari peranan  opini yang dibuat media massa yang ada. Karena media massa di Indonesia berada di tangan konglomerat Cina dan Zionis. Lebih dari 12 media massa, seperti telivis, surat kabar, majalah, dan radio, sebagian besar di tangan konglomerat Cina.

Tetapi, sesudah Mega berkuasa, tak dapat melakukan apa-apa, dan malah menjerumuskan Indonesia, menjadi subordinasi asing. Asset negara yang sangat strategis dijual, seperti Indosat kepada Singapura. Mega memberikan ampunan kepada obligor konglomerat Cina yang sudah ngemplang dan maling dana bailout BLBI Rp,650 triliun.

Di era Mega lahir UU Anti Teroris, dan sampai sekarang UU itu, digunakan oleh aparat keamanan khususnya Densus 88, mengejar para aktivis Islam, yang sudah diberi lebel sebagai ‘teroris’, dan banyak diantara mereka yang tewas, akibat tembakan oleh Densus 88.

Sekalipun kasusnya tidak pernah dibuktikan secara hukum. Semua itu, berlangsung di era Megawati.

Jokowi dengan dukungan konglomerat Cina yang merupakan kelompok minoritas di Indonesia berusaha mengangkangi kekuasaan, dan menggunakan kalangan ‘Muslim’ abangan yang dapat dijadikan ‘boneka’ guna merengkuh kekuasaan di Indonesia.

Jokowi bukan hanya meninggalkan pejabat kafir, seperti sekarang di Solo, di mana walikota Solo dipegang oleh seorang katolik. Di DKI Jakarta, sekarang Jokowi melenggang, dan dicalonkan oleh Mega, menjadi calon presiden. Jika terpilih,maka otomatis Ahok akan menjadi gubernur. Tidak terbayangkan bagaimana jika gubernur DKI dipegang Ahok.

Mega dengan keputusan mengangkat Jokowi itu, seperti memasang ‘bom waktu’ bagi Indonesia. Karena, dibelakang Jokowi sarat dengan kepentingan kelompok konglomerat Cina, Kristen, dan ditambah dengan Syi’ah. Semua itu akan menciptakan konflik horisontal bagi masa depan Indonsia. Wallahu’alam

Sumber : http://www.voa-islam.com/read/opini/2014/03/17/29532/bachtiar-nasir-selangkah-lagi-jokowi-membuat-indonesia-kafir/#sthash.ttu1FbEI.dpbs

Harga Ikan Asin di Manyak Payed di Tamiang Stabil

ACEH TAMIANG | STC - Harga ikan asin di Pasar Tualang Baru, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, dua bulan terakhir cenderung stabil.

"Sejumlah jenis ikan asin seperti ikan talang, geuregak, mening dan lainya selama dua bulan terakhir tidak mengalami lonjakan harga," kata Darmiati (42), pedagang ikan asin di pasar tersebut, kemarin.

Dikatakan, harga ikan asin talang yang dibelah Rp 25.000 sampai 28.000/kg. Sementara harga ikan teri naik Rp 3.000 tiap kilogram, minggu lalu harga ikan teri Rp 32.000 sekarang menjadi Rp 35.000/kg.

"Yang paling murah jenis ikan asin mening, harga ikan ini jarang naik, hanya berkisar Rp 12.000/kg. Bila kondisinya agak jelek, bisa lebih murah lagi," papar Darmiati.

Darmiati mengaku rutin berjualan di Pasar Tualang Baru mulai pukul 06.00 WIB. Sejauh ini ia selalu mengambil bahan jualannya dari daerah tetangga yakni Kuala Langsa.

"Meski pasokan ikan asin sedikit menurun, namun harganya masih bisa dibilang stabil. Pengambilanya belum naik, jadi harganya masih tetap dari minggu-minggu sebelumnya," ujarnya. (Medanbisnis/ck05)

Foto: Ilustrasi/republika

Dinsosnakertrans Aceh Tamiang akan Tekan Kesenjangan PMKS

KARANG BARU | STC - Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Aceh Tamiang kemarin menggelar rapat kerja membahas upaya meminimalisir jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), dengan satuan kerja perangkat kabupaten (SKPK) di Bappeda Aceh Tamiang.

Kajian raker tersebut ingin mengubah paradigma arah kebijakan bantuan sosial (bansos) menjadi pemberdayaan, kemandirian dan jaminan. 

Sekaligus ingin menumbuhkembangkan komunitas di tingkat bawah dan membentuk jejaring kerja antar sektoral untuk menekan jumlah PMKS.

Kepala Dinsosnakertrans Aceh Tamiang Drs Ikhwanuddin kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (15/4) mengatakan, kriteria masyarakat yang disebut PMKS yaitu masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan minimal hidupnya.

"Pendekatan dengan cara bantuan sosial yang dilakukan selama ini dinilai bersifat instan dan tidak dapat mengeluarkan masyarakat dari status PMKS," ujar Ikhwan.Dikatakan, ke depan Dinsosnakertrans akan memberikan pelatihan-pelatihan kepada PMKS yang dinilai masih produktif. 

Program pemberdayaan ini bertujuan memberi pelatihan keterampilan kepada kaum PMKS. Selanjutnya mereka dapat membentuk kelompok-kelompok usaha sendiri, seperti industri rumah tangga, kelompok tani, nelayan dan lain-lain yang bermuara pada terciptanya ekonomi produktif dan kemandirian individu.

"Khusus bagi PMKS yang sudah tidak produktif seperti orang jompo, penyandang cacat berat dan orang terlantar, kami akan memberikan jaminan potensi dan sumber daya kesejahtraan sosial atau PSKS," jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, untuk menjalankannya tidak bisa dikerjakan sendirian. Dinsosnakertrans akan membentuk jejaring kerja mengatasi bersama instansi sektoral, perusahaan-perusahan, organisasi sosisal, komunitas, sampai pribadi yang peduli.

"Persoalan sosial berjumlah 27 item, terdiri dari anak balita yang terlantar sampai rumah warga yang tak layak huni," ujar mantan sekretaris Bappeda ini.Tahun ini, lanjut Ikhwanuddin, Dinsosnakertrans akan memperbaharui data PMKS sebagai dasar pengambilan kebijakan. 

Untuk mengatasi masalah PMKS yakni dengan mengubah arah kebijakan dengan mengurangi pemberian bansos yang dinilai manjadi dampak ketergantungan bagi penerima bantuan. (Medanbisnis/ck05)

Foto: Ilustrasi/lensaindonesia.com

Caleg Nasdem Nomor Urut 6 Dapil 2 Dilaporkan Ke Panwaslu Atam


Diduga Bagikan Uang Kepada Masyarakat saat malam hari “H”

RICO FAHRIZAL | STC
Foto; Rico Fahrizal/STC

ACEH TAMIANG | Diduga adanya Timses (TS) Calon Legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (Caleg DPRK) dari Partai Nasdem nomor urut 6 Daerah Pemilihan (Dapil) 2 Aceh Tamiang, berinisial IS, membagi – bagikan uang kepada masyarakat Desa Matang Tepah, Kecamatan Bendahara, kabupaten setempat, Caleg tersebut kini dilaporkan oleh masyarakat setempat ke Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Aceh Tamiang, Minggu (13/4).

Agam, (36), warga setempat kepada STC, Rabu ((16/6) kemarin mengatakan, pembagian uang kepada masyarakat Matang Tepah yang dilakukan oleh TS Caleg tersebut, terjadi saat menjelang sehari Pemilihan Umum (Pemilu). Namun berkat kejelihan sejumlah warga setempat yang berhasil menangkap tangan TS tersebut saat membagikan uang, lanjut Agam, makanya kecurangan Caleg dari Partai Nasdem itu kini telah dilaporkan ke Panwaslu Aceh Tamiang.

“Atas adanya kecurangan yang dilakukan oleh TS Caleg dari Partai Nasdem itu, sejumlah saksi telah dihadirkan untuk memberikan keterangan ke Panwaslu, serta barang bukti uang yang diterima oleh masyarakat dari TS Caleg tersebut, juga telah diserahkan ke pihak Panwaslu Aceh Tamiang,” terang Agam.

Agam yang  didampingi sejumlah warga setempat menambahkan, untuk mendapatkan kursi diparlemen pada Pemilu 2014 ini, ternyata masih banyak Caleg yang melakukan kecurangan mony politik untuk mendapatkan suara terbanyak. Dan hal itu sangat ia sesalkan. Sebab, sambung Agam, Caleg yang menggunakan cara kotor,  tentu akan berdampak semakin sulitnya praktek korupsi di Indonesia untuk dihilangkan, karena dana besar yang dikeluarkan Caleg tersebut untuk meraih kusri diparlemen, tentu harus kembali masuk ke saku-nya, sehingga pada saat menjabat anggota dewan, Caleg itu pasti akan melakukan upaya dalam menghalalkan berbagai macam cara untuk merampas uang rakyat. 

“Jujur saya sangat menyesalkan banyaknya Caleg pada Pemilu 2014 ini masih menggunakan mony politik dalam mendapatkan suara. Kecurangan yang dilakukan oleh Caleg tersebut tentu akan membuat Indonesia masih bertahan sebagai negara korupsi. Maka dari itu, apa yang dilakukan oleh Caleg dari Nasdem berinisial IS tersebut telah kami laporkan ke Panwaslu Aceh Tamiang, sebab menurut kami tindakan Caleg tersebut merupakan sebuah kejahatan politik yang akan merusak negara ini,” ungkapnya mengakhiri.

Divisi Pelanggaran Pemilu Panwaslu Aceh Tamiang, Asrul Bahri, SE dikonfirmasi via selular, kemarin membenarnya pihaknya telah menerima laporan dari masyarakat Desa Matang Tepah terkait dugaan money politik yang dilakukan Caleg dari Partai Nasdem tersebut. 

“Ya, benar, kami telah menerima laporan atas dugaan hal itu dari masyarakat Desa Matang Tepah. Kami juga sudah memintai keterangan saksi sebagai pihak yang melaporkan hal itu. Sedangkan pihak tersangkanya sudah kami panggil untuk melakukan klarifikasi, namun yang bersangkutan tidak hadir. Yang jelas, semua laporan atas pelanggaran Pemilu akan kami tindaklanjuti. Bila laporan tersebut memenuhi unsur pelanggaran, kami akan meneruskan ke GAKKUMDU (Pengaduan Hukum Terpadu) pengenai pelanggaran pemilu.  (***)

Jokowi di Mata Israel

Written By Sayed Mahdi on Rabu, 16 April 2014 | 15.28

JAKARTA | STC - Sepak terjang Jokowi ternyata juga dipantau Israel. Laman Israel tak henti menyorot segala macam berita tentang Gubernur Jakarta itu. Laman Israelforeignaffairs.com, misalnya tak ketinggalan memotret perjalan Jokowi di peta perpolitikan nasional.

Laman Israel itu mengutip sepak terjang Jokowi dari sejumlah media asing dan media Indonesia. Ada sekitar 25 berita yang terkait soal Jokowi di laman Israel itu. Uniknya, berita soal Jokowi baru intensif jadi sorotan laman itu sejak bulan Maret, atau hampir bersamaan dengan waktu pencapresan Jokowi oleh PDI Perjuangan.

Jokowi pun diportet secara positif dalam berita yang dikutip oleh laman Israel itu. Beberapa berita Jokowi yang dikutip laman Israel itu di antaranya berjudul, "Pencapresan Gubernur Jokowi Riuhkan Politik Indonesia" dan "Jokowi: Penggemar Metal yang Diunggulkan Jadi Presiden Indonesia."

Tak hanya Jokowi yang mendapat sorotan dari media itu. Sejumlah berita terkait tokoh politik nasional pun tak luput dikutip oleh laman Israelforeignaffairs.com. Namun porsi sorotan pada Jokowi menyita perhatian terbanyak.

Bukan hanya sebatas media, perwakilan Israel pun intensif menjalin kontak dengan tokoh politik Indonesia. Salah satu tokoh yang pernah menjalin kontak dengan Israel adalah petinggi Partai Nasdem, Ferry Mursyidan Baldan. Kini Ferry bersama Partai Nasdem-nya menjalin koalisi untuk meloloskan Jokowi sebagai presiden Indonesia. (Republika)

Warga Temukan Mayat Terapung di Sungai Tamiang

ACEH TAMIANG | STC - Warga Desa Rantau Pakam, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, digegerkan penemuan sesosok mayat laki-laki terapung di tengah Sungai Tamiang, Senin (14/4) pagi.

Kemudian warga bersama perangkat desa menarik mayat tersebut ke tepian sungai dengan menggunakan perahu dayung, dan datok penghulu langsung melaporkan penemuan mayat itu ke Pos SAR Aceh Tamiang.

"Awalnya warga yang sedang menyuci pakaian di sungai melihat mayat tersebut terapung dibawa arus," kata Buyung Selamat, Datok Penghulu Desa Rantau Pakam.Menurutnya, mayat tersebut kondisinya sudah nyaris membusuk dan tidak bisa diketahui identitasnya. 

Waktu ditemukan, mayat dengan kondisi tidak berbaju, hanya masih mengenakan celana jeans. "Diperkirakan mayat berada dalam air sekitar tujuh sampai sepuluh hari," ujarnya.

Ketua Tim SAR Aceh Tamiang Syaiful Syahputra saat dikonfirmasi mengatakan, sekitar pukul 09.00 WIB pihaknya menerima laporan dari perangkat desa bahwa ada penemuan mayat di desa pesisir kawasan Rantau Pakam. 

Kemudian tim SAR dengan melibatkan Pos SAR Langsa dan Muspika langsung berkoordinasi dan menuju TKP.Sampai di lokasi, tim gabungan itu langsung mengevakuasi mayat korban ke RSUD Aceh Tamiang menggunakan mobil resecue milik SAR.

"Sejauh ini temuan mayat sudah ditangani pihak SAR, dan kami masih menunggu tindak lanjut dari pihak rumah sakit dan kepolisian terkait indentitas korban setelah diotopsi nanti," ujar Syaiful.

Kepala BPBD Aceh Tamiang Jalaluddin SE saat ditemui di ruang kerjanya mengemukakan, mayat tersebut adalah Imam Sulaiman (28), warga Sriwijaya, Kualasimpang, yang tenggelam beberapa waktu lalu. 

Karena waktu didatangkan ke RSUD Tamiang, pihak keluarganya pun mengakui kalau mayat itu adalah Iman Sulaiman."Berdasarkan ciri-ciri korban yang masih dapat dikenali, pihak keluarga memastikan kalau itu Imam. 

Imam merupakan pegawai honorer yang bertugas di PN Kualasimpang sebagai sopir," kata Jalaluddin.Adapun persamaan ciri-ciri di tubuh korban berupa bentuk gigi, kunci kontak sepeda motor, lalu ikat pinggang yang digunakan korban merupakan ikat pinggang pemberian ayahnya.

"Namun begitu kita tetap menunggu kesimpulan dari pemeriksaan kepolisian dan rumah sakit atas kebenaran informasi ini. 

Yang lebih meyakinkan, kunci sepeda motor yang ditemukan di saku celana korban cocok dengan kedaraan yang ia punya dan bisa digunakan," kata Jalaluddin. (Medanbisnis/ck05)

Foto: EVAKUASI TIM SAR gabungan yang dipimpin Ketua tim SAR Atam, Syaiful Syahputra mengevakuasi mayat yang diduga korban tenggelam di Sungai Tamiang dari desa Rantau Pakam menuju RSUD Aceh Tamiang, Senin (14/4). (medanbisnis/ist)

BPBD Aceh Tamiang Kekurangan Armada Damkar

KUALASIMPANG | STC - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tamiang Jalaluddin SE mengatakan, pihaknya masih sangat kekurangan sarana dan prasarana untuk menunjang kinerja terutama mobil pemadam kebakaran (damkar). 

Mobil damkar yang tersedia sekarang dirasa masih sangat minim, dibanding luas kabupaten yang memiliki 12 kecamatan."Saat ini mobil damkar yang tersedia hanya tiga unit, jelas ini tidak sebanding dengan luas wilayah Aceh Tamiang yang harus dicover BPBD. 

Idealnya kami memiliki delapan sampai 10 unit mobil damkar," kata Jalaluddin di ruang kerjanya, Senin (14/4).

Tapi menyangkut kebutuhan dimaksud, pihaknya sudah coba mengusulkan tambahan armada damkar dan juga pembangunan pos unit bersiaga petugas damkar yang memang sangat dibutuhkan. 

Usulan itu sudah disampaikan lewat musrenbang provinsi belum lama ini, dan sudah disepakati."Saya rasa di tahun 2015 akan terealisasi satu unit mobil damkar berkapasitas 3.000 liter untuk BPBD Aceh Tamiang, dengan anggaran sekitar Rp 1,4 miliar," ujarnya.

Sejauh ini, sambung dia, pihaknya sangat terhambat bila ada insiden kebakaran yang jaraknya jauh, seperti di Kecamatan Manyak Payed dan Tamiang Hulu. 

Selain kekurangan armada, mereka juga tidak memiliko pos di sana. "Rencananya kita akan bangun satu pos unit damkar di Simpang Tiga Mapoli, Kecamatan Tenggulun, untuk menjangkau wilayah-wilayah ujung dalam kabupaten ini. 

Satu pos menghabiskan biaya Rp 300 juta, akan dibangun tahun 2015," tambahnya.Menurut mantan Camat Bandar Pusaka ini, mestinya di tiap-tiap kecamatan harus ada pos damkar yang selalu siaga untuk merespon informasi bila terjadi musibah kebakaran. 

"Kita berpedoman dengan daerah Lhokseumawe. Di sana, setiap kecamatan disiagakan dua unit mobil damkar dan mekanismenya sudah berjalan hingga kini," katanya.

Jalaluddin mengilas balik peristiwa kebakaran di Pekan Pulo Tiga, Kecamatan Tamiang Hulu. Pada kejadian itu, satu orang tewas dan sebanyak lima ruko ludes terbakar. 

"Itu akibat jarak tempuh ke objek kebaran sangat jauh. Sementara pos induk damkar berada di Kota Kualasimpang yang waktu tempuhnya bisa satu jam lebih. 

Bila pos unit sudah dibangun di sana, setidaknya petugas damkar bisa bergerak cepat guna meminimalisasi dampak kerugian yang dialami masyarakat pada saat terjadi kebakaran," ujarnya. 

Selain kekurangan armada mobil damkar dan keterbatasan pos damkar bantu, BPBD Aceh Tamiang juga membutuhkan rubber boat (perahu karet) dan fiber boat untuk penanganan pra dan pascabanjir. 

Rubber boat yang ada saat ini sangat minim, BPBD Aceh Tamiang saat ini hanya memiliki tiga unit rubber boat berkapasitas lima orang awak, ditambah lima unit fiber boat yang sudah ditempatkan di sejumlah kecamatan dengan rincian Kecamatan Tamiang Hulu satu unit, Seruway satu unit, Bandar Pusaka satu unit dan di Kecamatan Tenggulun dua unit.

"Sedangkan bila kita mengacu pada insiden banjir bandang tahun 2006, kebutuhan peralatan sarana air jika ditambah 10 unit lagi pun belum bisa meng-cover wilayh Tamiang dari hulu hingga hilir yang begitu luas, dalam upaya evakuasi. 

Kebutuhan sarana penanggulangan banjir ini sudah dibicarakan pada rapat kerja dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Jakarta, Maret lalu.Dan pada prinsipnya bupati mendukung dan menyetujui," ungkapnya.

Kabid Pemadam Kebakaran Abdul Jalil SH yang ditemui terpisah, Selasa (15/4) mengatakan mobil damkar yang bersiaga di workshop pos induk damkar Kota Kualasimpang sebanyak tiga unit, dua di antaranya berkapasitas 6.000 liter dan satu unit lagi berkapsitas 4.000 liter.

Menurut data pihak damkar yang saat ini masih bergabung pada BLH dan Kebersihan Kabupaten Aceh Tamiang, peristiwa kebakaran pada tahun ini sudah terjadi 21 kali. Minimnya armada dan tidak tersedianya pos unit bantu menjadi kendala tersendiri bagi petugas damkar.

Menurut Jalil, sejauh ini tiga unit mobil damkar yang ada di workshop selalu diterjunkan manakala terjadi kebakaran dalam lingkup kabupaten ini. Cukup tidaknya hanya ini yang dimiliki, dan jarang ada bantuan dari pihak manapun.

Dia berharap pemerintah dapat membangun pos unit damkar, idealnya dibangun pada wilayah strategis yakni di Simpang Tugu Upah dan Simpang Pulo Tiga. 

"Kedua wilayah ini diperkirakan dapat memberikan efisiensi waktu petugas damkar, karena terletak di sisi timur dan barat. 

Sedangkan pos induk yang ada di Kualasimpang untuk meng-cover wilayah perkotaan dan sekitarnya," demikian Jalil. (Medanbisnis/ck05)

Foto: MOBIL DAMKAR ARMADA mobil pemadam kebakaran (damkar) Kabupaten Aceh Tamiang terparkir di garasi workshop di jalan lintas Medan-Banda Aceh, kota Kualasimpang, Selasa (15/4). Kabupaten tersebut hanya memiliki satu pos induk dan tiga unit mobil damkar. (medanbisnis/ck05)
.
.
 
Support : Jasa Design Blogger Template | Free Template
Copyright © 2011. Suara Tamiang - All Rights Reserved