Headlines News :

Ketua LIPAT : Hindarkan Anak dari Pelanggaran Hukum

Written By Suara Tamiang on Kamis, 30 Juni 2011 | 18.34

Ilustrasi | Google
Dampak dari banyaknya kasus yang terjadi di berbagai daerah, terkait tindak kekerasan yang menimpa dalam kehidupan berumah tangga, yang proses kasusnya berujung ke pihak penegak hukum, Lembaga Informasi Pemantau Aceh Tamiang (LIPAT) menggelar penyuluhan hukum tentang Narkoba, HAM, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Perlindungan Anak.

Penyuluhan hukum ke sejumlah perkumpulan kaum ibu, terutama kelompok Wirid Yasin tersebut juga memaparkan tentang penangkal untuk menghindari terjadinya korban pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Sebagai langkah awal dalam kegiatan penyuluhan Hukum dan HAM tersebut, LIPAT menggelar kegiatan awalnya Jumat (24/6) di kediaman H. Zainal Arifin / Hj. Faridah, di Kampung Durian, Kecamatan Rantau. Sedangkan kegiatan kedua, LIPAT menyelenggarakan kegiatan yang sama dikediaman Ismiati, kelompok wirid yasin Samadiyah Kampung Kota Lingtang Bawah, Kecamatan Kota Kualasimpang, Sabtu (25/6).

Suryawati, SH selaku pemberi materi tentang KDRT dan Perlindungan Anak menghimbau kepada para ibu-ibu, untuk tidak takut melaporkan ke pihak berwajib adanya peristiwa KDRT yang terjadi di rumah tangga termasuk juga masalah anak yang menjadi korban KDRT, maupun korban penculikan atau perbuatan pencabulan. Terlebih lagi dilakukan terhadap korban anak di bawah umur.

Penyuluhan Hukum dan HAM dimaksud dilakukan usai acara pokok kelompok, yakni setelah berakhirnya pembacaan doa wirid yasin. Kemudian Suryawati, SH dari LBH Yusria lebih banyak memberi waktu kepada kelompok perwiridan untuk berdialog dan konsultasi tentang hukum yang menyangkut KDRT.

Budaya Barat
Ketua LIPAT M. Yusuf, S.Ag didampingi sekretarisnya Zainuddin (Ralip) mengatakan, kegiatan penyuluhan dilakukan sebagai wujud kepedulian terhadap para kaum hawa dan anak-anak yang telah banyak menjadi korban kekerasan dan pelecehan.

“Kami informasikan kepada ibu-ibu untuk dapat menjaga dan mengawasi anak-anaknya agar terhindar dari perlakuan pelecehan seksual dan KDRT serta mengarahkan terhadap anak untuk menghindari diri dan tidak terjerumus dari bahaya narkoba”, papar M. Yusuf, S.Ag.

Yusuf mengatakan, kegiatan sama juga akan digelar di sejumlah kelompok wirid yasin kaum ibu di beberapa kecamatan dalam Kabupaten Aceh Tamiang. Menurut Yusuf, kegiatan yang dilakukan LIPAT merupakan hal yang positif dan wajib dilakukan.

Seiring pesatnya arus informasi melalui media elektronik yang semakin canggih, banyak kawula muda yang hanyut terbawa arus oleh budaya barat yang berdampak negatif di tengah-tengah kehidupan sosial bangsa ini, yang cenderung merusak aqiqah, iman seseorang serta moral dan citra bangsa.

Hadir dalam acara tersebut, selain sekretaris LIPAT, Zainuddin yang akrab disapa Ralip, juga hadir beberapa anggota lembaga tersebut, yakni H. Muhammad Zemi, SP, Suparmin dan Aliyandi, SH.

Atas nama LIPAT, M. Yusuf, S.Ag memberikan sejumlah bantuan uang tunai dan puluhan Kitab Surat Yasin sebagai kenang-kenangan kepada para kelompok perwiridan tersebut.

Sumber : Suparmin

Agar Aman "Travelling" Saat Hamil

ilustrasi google
Hanya karena Anda sedang hamil, tidak berarti Anda tidak bisa ikut liburan keluarga kan? Syaratnya, kehamilan sudah dalam kondisi aman. Bagaimana Anda mengetahui bahwa kondisi kehamilan Anda sehat dan tak bermasalah, tentu setelah memastikannya dengan dokter Anda.

Memastikan bahwa segala sesuatunya aman dan terencana, tentu akan membantu kenyamanan Anda selama liburan. Enggak asyik kan, Anda ikut jalan-jalan, tetapi waswas dengan kondisi janin Anda?

Pada dasarnya, travelling yang aman saat hamil adalah pada trimester kedua. Pada saat itu, mual-muntah sudah berkurang dan tubuh Anda sudah menyesuaikan diri dengan adanya janin di dalam kandungan. Namun, yang paling aman sih, Anda konsultasikan dulu kondisi kehamilan Anda dengan dokter sebelum bepergian. Apakah transportasi atau tempat yang Anda tuju memiliki pengaruh buruk terhadap kehamilan? Ketika memilih moda transportasi, pertimbangkan waktu tempuhnya. Transportasi tercepat memang yang terbaik, tapi siapa tahu ada efek samping yang perlu dipertimbangkan juga kan?

Dengan pesawat
Jika kehamilan Anda sehat dan kondisi janin sudah kuat, bepergian dengan pesawat tergolong aman. Yang perlu Anda ketahui, bepergian dengan pesawat bisa meningkatkan risiko komplikasi karena kondisi tertentu, misalnya, kelainan penggumpalan darah dan sickle cell disease, penyakit kelainan darah yang bisa mengurangi harapan hidup janin. Dokter mungkin akan membatasi perjalanan dengan transportasi apa pun setelah usia kehamilan 36 minggu, atau jika Anda berisiko mengalami kelahiran prematur.
   
Di dalam pesawat, ibu hamil sebaiknya memilih kursi di lorong. Gunanya agar Anda lebih cepat bangkit saat ingin ke toilet. Kursi di lorong juga memudahkan Anda untuk berjalan-jalan sekadar melepaskan penat. Jika Anda harus tetap duduk, regangkan kaki Anda sesering mungkin. Jangan lupa banyak minum air putih karena kelembaban yang rendah di dalam kabin bisa menyebabkan dehidrasi.

Dengan mobil
Saat melakukan perjalanan darat dengan mobil, selalu kenakan sabuk pengaman (hal ini juga wajib dilakukan meski Anda tidak sedang hamil). Bila terjadi gerakan mengejut akibat pengereman, ditambah lagi tak memakai seat belt, ibu hamil bisa mengalami trauma yang menyebabkan kematian janin. Dan, kecelakaan dengan kendaraan adalah penyebab trauma paling parah bagi ibu hamil. Kenakan bagian bawah sabuk pengaman di bawah perut dan di atas paha atas, lalu arahkan tali pundak yang diagonal di antara payudara.
Jika jarak tempuh cukup jauh, sering-seringlah berhenti untuk meregangkan badan. Hal ini bisa menjaga mencegah darah terkumpul di kaki saja sehingga menyebabkan penggumpalan darah. Hindari kondisi tetap duduk lebih dari dua jam, dan batasi waktu tempuh dalam sehari hingga enam jam saja. Sama seperti berkendara dengan pesawat atau dalam kondisi apa pun, Anda juga harus banyak minum.

Dengan kapal
Memilih kapal untuk mencapai tujuan wisata, atau Anda berlibur dengan kapal pesiar, aman untuk kondisi sedang hamil. Kebanyakan kapal pesiar mengizinkan penumpang yang usia kehamilannya 26 minggu pertama. Paling aman sih, memastikan bahwa kapal tersebut memiliki fasilitas kesehatan yang cukup memadai. Cari tahu juga apakah tujuan wisata Anda juga dilengkapi fasilitas kesehatan yang modern, siapa tahu Anda membutuhkan perawatan darurat.

Yang perlu Anda ingat, gerakan kapal yang bergoyang mengikuti air bisa menyebabkan mual-muntah. Jika Anda khawatir mabuk laut, bawalah obat-obatan dan perlengkapan pribadi untuk pertolongan pertama. Hati-hati juga saat berjalan di dek, karena kemungkinan akan licin.

Sumber : Kompas Online

Warkop untuk Pendidikan

Jarjani Usman | OPINI

Ilustrasi | Google
Seseorang filosof Perancis, Pierre Bourdieu (sebagaimana disitir Nasir & Hand, 2006) menyatakan bahwa reproduksi sosial dalam masyarakat dimediasi oleh budaya. Ada budaya yang mengungkit kesuksesan di sekolah, ada juga yang menimbulkan kegagalan (di sekolah). Pendapat filosof yang juga antropolog dan sosiolog ini penting untuk melihat masyarakat Aceh yang memiliki budaya khusus di warung kopi.

Kalau dicermati, cara masyarakat Aceh duduk di warung kopi (warkop) memiliki beberapa karakteristik yang membantu proses pembelajaran. Meskipun tidak terorganisir, rata-rata orang yang datang ke warung kopi duduk berkelompok-kelompok, tak tertekan secara psikologis dalam mengemukan pendapat, dan memperbincangkan berbagai tema, mulai dari berita yang sedang hangat dalam masyarakat hingga bisnis. Dalam pandangan sejumlah ahli pendidikan, seperti Paulo Freire dan Lev Vygotsky, cara-cara ini dikatakan termasuk dalam proses pembelajaran aktif.

Menurut Freire (1993), pembelajaran aktif yang sifatnya tematik dan berhubungan dengan masalah-masalah yang sedang berkembang dalam masyarakat sekitar, sangat penting dalam melakukan transformasi dalam suatu masyarakat. Namun, menurut pakar terkenal dari Brazil itu, masyarakat harus mampu menyeleksi hal-hal yang sifatnya opresif atau bersifat menindas. Untuk itu, kritis dalam mencermati hal-hal yang bersifat menindas, sangat penting dimiliki. Di antara hal-hal yang bersifat menindas itu adalah masalah kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, pengistimewaan sekolah tertentu dibandingkan dengan yang lain, dan sebagainya.      

Kenapa kemiskinan, ketidak-adilan, korupsi, pengistimewaan sekolah tertentu dibandingkan dengan yang lain, bersifat menindas?  Alasannya, praktik-praktik seperti ini akan melestarikan hegemoni atau dominasi orang-orang bermodal terhadap masyarakat yang lain yang tidak punya modal. Korupsi, misalnya, tentunya bertujuan untuk mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya. Dengan modal tersebut, mereka bisa tetap berfungsi sebagai majikan yang bisa mengatur sesuka hati orang-orang tak bermodal (Heilbroner, 1991).

Bukan hanya itu, dengan uang yang banyak itu, mereka mampu menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah yang bagus.  Sedangkan anak-anak orang miskin hanya sekolah di sekolah-sekolah biasa. Cara sekolah seperti inilah yang disebut oleh Bowles dan Gintis (1977) sebagai ketidakadilan yang akan terus melahirkan strata masyarakat kelas tinggi dan kelas rendah.

Budaya di Kelas
Namun yang menjadi hal mengherankan adalah budaya aktif yang sudah mengakar di warung kopi (warkop) dalam masyarakat Aceh tidak berimplikasi banyak terhadap budaya pembelajaran dalam kelas.

Dalam pembelajaran di dalam kelas yang seharusnya menerapkan pembelajaran aktif, malah banyak dilaksanakan secara sebaliknya atau dalam istilah Freire disebut “Banking Concept of Education” (Kincheloe, 2008). Padahal sejumlah penelitian membuktikan bahwa pembelajaran aktif sangat penting terutama dalam meningkatkan semangat belajar, mengakomodir keragaman pola belajar pelajar, menjadikan anak menjadi kreatif, menciptakan demokrasi di kelas, dan mempertahankan ingatan terhadap hasil belajar.

Pola pendidikan seperti ini berdampak buruk di kelas. Guru selalu menganggap dirinya benar, sedangkan murid harus selalu menjadi tong yang akan terus diisi tanpa penolakan. Anak-anak menjadi suka diam, ketimbang berbicara. Padahal yang belajar adalah anak-anak, yang seharusnya guru membantu cara belajar anak. Menurut para ahli pendidikan, tidak semua yang dibilang guru itu benar. Sebagiannya hanya infomasi, bukan pendidikan. Pendidikan ada nilai seperti keadilan, sedangkan informasi hanya bersifat menambah pengetahuan.

Mungkin pola pembelajaran seperti ini tidak selamanya karena guru, tetapi juga pihak yang menghasilkan guru, seperti para dosen di perguruan tinggi (LPTK).

Ada pengajar perguruan tinggi yang memahami konsep pembelajaran aktif dengan transfer of knowledge. Padahal, dalam pembelajaran aktif berlaku construct of knowledge, keterampilan, dan nilai. Transfer of knowledge sifatnya guru yang aktif, sedangkan construct of knowledge mensyaratkan murid yang aktif, karena muridlah yang berperan penting dalam mengonstruksi belajarnya dalam bentuk pengetahuan, ketrampilan, dan nilai.

Tidak adanya implikasi pola aktif ala warung kopi yang sudah membudaya dalam masyarakat terhadap pola belajar di kelas mengindikasikan bahwa pendidikan di Aceh khususnya belum sensitif terhadap atau bercorak budaya lokal. Ini sungguh ironis.  Alasannya, menurut Vygotsky dalam teori sociocultural, budaya dan keadaan sosial peserta didik banyak membantu kesuksesan belajar mereka. Hal sudah banyak diteliti kebenarannya di berbagai belahan dunia (Brooks-Gunn & Duncan, 1997; Hickey & Zuiker, 2005; Rutter, 1985; Sirisatit, 2010).

Absennya budaya lokal dalam proses pembelajaran menimbulkan suatu kecurigaan. Jangan-jangan pola pembelajaran yang dilaksanakan di kelas dalam beberapa taraf tertentu masih banyak menganut pola penjajahan (semua tidak) yang mengharuskan rakyat terjajah untuk senantiasa tunduk kepada kumpeni dan tidak boleh berkutik. Pelajar sengaja diciptakan agar tidak kritis dan kreatif karena bisa menganggu penjajahan mereka. Hanya anak-anak orang-orang yang tunduk dan bekerja kepada penjajah yang dibolehkan sekolah di tempat-tempat yang bagus. Akibatnya, negara jajahan akan sulit maju dan terus menjadi lahan empuk para penjajah.   

Kecurigaan ini bisa menemukan titik terang bila menghitung perbedaan jumlah waktu hidup masyarakat Indonesia di masa kemerderkaan (67 tahun) jauh lebih sedikit dibandingkan waktu hidup di masa penjajahan (358 tahun lebih). Hal ini biasanya berdampak terhadap pola pikir masyarakat dalam waktu yang lama. Karena itu, penting kiranya kita mengembalikan pola pendidikan yang berdasarkan budaya lokal, misalnya, dengan memasukkan pola belajar di warung kupi, tapi terorganisir.   

* Penulis adalah mahasiswa program doktor pendidikan, Deakin University, Australia.

Jika Pemkab Tidak Respon Tuntutan Terkait Walet Ilegal, Kedatangan Irwandi Pada MTQ Akan Diwarnai Unjuk Rasa

Tarmizi | Suparmin
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Aceh Tamiang, mengharapkan Pemkab Aceh Tamiang segera menindak tegas para pengusaha wallet agar segera menutup usaha illegal penangkaran burung wallet tanpa izin yang sengaja dibiarkan hingga bertahun tahun.


Adanya pembiaran terhadap penangkaran wallet tanpa izin tersebut merupakan cermin bahwa pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang tidak punya nyali untuk melakukan penertiban serta memberi tindakan tegas sesuai hukum kepada pengusaha yang nyata telah mengangkangi Qanun dan peraturan pemerintah.  Lalu, apa fungsi Satpol PP?


Ketua Umum PMII, Tarmizi (Foto) mengatakan, pihaknya beserta sejumlah OKP dan LSM Aceh Tamiang siap menurunkan massa untuk melakukan unjuk rasa dihadapan Gubernur Aceh, Drh Irwandi Yusuf pada saat acara pembukaan MTQ XXX Aceh di Karang Baru awal Juli mendatang.


Hal itu dilakukan jika Pemkab Aceh Tamiang tidak merespon dan menyelesaikan secara tuntas terhadap tuntutan sejumlah elemen masyarakat terkait puluhan gedung penangkaran burung wallet illegal yang berdiri megah ditengah kota Kualasimpang. 


Ancaman unjuk rasa tersebut diungkapkan Tarmizi, Senin (27/6) saat berada disebuah kantin seputar Mapolres Aceh Tamiang ketika akan melakukan audiensi kepada Kapolres, AKBP Drs Armia Fahmi dikantornya.


“Kita mendesak kepada Pemerintah Aceh Tamiang agar segera menyelesaikan permasalahan penangkaran wallet illegal yang tidak ada konstribusinya kepada Daerah. Selain itu, keberadaan penangkaran wallet ditengah kota yang jelas padat penduduk itu juga sangat rentan menyebabkan timbulnya puluhan jenis penyakit terhadap warga sekitar”, ungkap Tarmizi.


“Jika hal itu diabaikan dan tidak tanggapi Pemkab, kami dari mahasiswa beserta OKP dan LSM akan berunjuk rasa dihadapan Gubernur Irwandi Yusuf saat membuka MTQ XXX Aceh. Kami menuntut agar Pemerintah  segera menutup kegiatan penangkaran wallet ditengah tengah kota yang jelas sangat merugikan daerah dan warga sekitar”, tambah Tarmizi.


Sementara itu, Ketua KNPI Aceh Tamiang, Andis Prawira berharap agar Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang bertanggung jawab atas penerbitan izin IMB dan peruntukan penggunaan gedung yang disalah 
gunakan pengusaha wallet. 


“Pemkab harus bertanggung jawab, atas adanya dugaan ketinggian bangunan melebihi dari izin yang dikeluarkan. Apalagi adanya izin bangunan tersebut untuk ruko dan tempat tinggal,  namun kenyataan dilapangan dijadikan penangkaran wallet. Sementara terjadi pembiaran dari pemerintah  atas penyalah gunaan yang jelas jelas mengangkangi Qanun dan peraturan oleh pengusaha”, jelas Andis.


Andis menambahkan, jika terus terjadi pembiaran adanya penangkaran wallet illegal hingga lebih lama lagi, dikhawatirkan dampaknya akan mengena kepada warga sekitar. Hal itu dikatakan Andis karena mengacu referensi pada Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (OWAKA) Tahun 2008 di Bogor terkai penyakit karena burung walet.


Menurut Andis, meski sarang wallet dikenal bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Namun tidak banyak yang tahu jika burun wallet memiliki sisi negative yang dapat merugikan bagi kehidupan manusia. Menurutnya burung wallet bisa menyebabkan sebanyak 24 jenis penyakit pada manusia. Ke 24 penyakit tersebut  menyerang otak, syaraf dan pnyakit lainnya.


Andis mengatakan, menurut hasil riset peneliti burung dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mas Nurjito, penyakit ersebut disebarkan melalui air liur, nafas dan kotoran wallet. Orang yang terkna virus itu akan mengalami pusing, lemas dan lelah. Dan bila penyakit dimaksud menyerang syaraf, orang tersebut bisa mengalami kelumpuhan, papar Andis menerangkan pendapat Mas Nurjito.

Sumber : Suparmin

Budaya Tamiang Berkembang Sejak 5.000 Tahun Lalu

Foto Bukit Kerang
Peneliti Madya Badan Latihan Arkeologi (BALAR) Medan, Ketut Wirad Nyana menyimpulkan sejak 5.000 tahun lalu telah berkembang nilai-nilai budaya di Aceh Tamiang. Kesimpulan itu disampaikan sehubungan telah berakhirnya penelitian yang dilakukannya bersama 50 orang peneliti lainnya tentang keberadaan budaya di Aceh Tamiang pada oktober 2010.


Dijelaskan, penelitian yang dilakukan untuk mengetahui keberadaan budaya di Aceh Tamiang karena terdorong beberapa peneliti menyebut-nyebut di sebuah lokasi perbukitan di daerah Desa Pangkalan Kecamatan Kejuruan Muda terdapat tumpukan kulit kerang kecil (remis) yang sudah menggunung. Diantara tumpukan itu telah ditemui beberapa fosil yang mengisaratkan ada kehidupan mahluk yang berbudaya di daerah setempat.


Antara lain terdapat tumpukan gerabah yang terbuat dari kulit remis yang tertata rapi seperti kalung.Kemudian juga ditemui beberapa alat yang terbuat dari batu berbentuk kapak dan senjata lainnya. Juga ditemui beberapa batu yang diperkirakan untuk dimanfaatkan sebagai alat yang bisa mengeluarkan api. Semua temuan itu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui keberadaan manusia sejak 5.000 tahun lalu yang hidup di Aceh Tamiang sebagai mahluk yang berbudaya.
Kata Ketut, manusia pra-sejarah itu diketahui dari hasil penelitian yang dilakukan telah berdomisili di kawasan dataran tinggi.

Padahal secara umum diketahui manusia yang hidup pada era 5.000 tahun lalu lebih senang tinggal di rawa-rawa dan tidak jelas kehidupannya, sehingga disebut manusia purba.Tapi pada kenyataannya dari hasil penelitian yang dilakukan, terbukti manusia yang hidup era 5.000 tahun lalu di kawasan Aceh Tamiang sudah memiliki kehidupan religi dan kebudayaan yang tinggi.

Menurut Ketut, sedikitnya tujuh titik lokasi benda cagar budaya (BCB), makam raja-raja dan istana raja semuanya diteliti pihak Balar bersama sejumlah peneliti budaya lainnya dari Provinsi NAD dan Provinsi Sumut. Namun untuk sementara waktu, hanya perbukitan bukit remis yang terdapat di Desa Pangkalan tersebut yang bisa disimpulkan sebagai bagian dari keingintahuan terhadap perkembangan budaya di Aceh Tamiang.

Begitupun masih diperlukan penelitian berlanjut kedaerah lainnya yang masuk wilayah Aceh Tamiang, terutama tentang keberadaan bukit kerang di Desa Masjid Kecamatan Bendahara.

Bukit kerang di Kecamatan Bendahara dan Bukit Remis di Kejuruan Muda memiliki perbedaan, yang satunya tumpukan kulit kerang remis dan satunya lagi tumpukan kulit kerang yang besar. Namun keduanya merupakan kulit kerang yang sudah menumpuk.

Sumber : Serambi Online

AIR TERJUN KEMBAR – TENGGULUN

Written By Suara Tamiang on Rabu, 29 Juni 2011 | 13.12


 Transportasi
 Jenis
: Darat

 Kondisi
: Baik
 Lokasi
 Desa
: Tenggulun

 Kecamatan
: Tenggulun
 Jarak Dari Ibukota
 Kabupaten
: + 60 Km

 Kecamatan
: + 20 Km

Sumber : Profil Wisata Kabupaten Aceh Tamiang
Foto : Adi Rahayu Waris

PANTAI KUPANG - SERUWAY


Transportasi
 Jenis
: Darat

 Kondisi
: Baik
 Lokasi
 Desa
: Lubuk Damar

 Kecamatan
: Seruway
 Jarak Dari Ibukota
 Kabupaten
: + 25 Km

 Kecamatan
: + 1 Km

Sumber : Profil Wisata Kabupaten Aceh Tamiang
Foto : Adi Rahayu Waris

BBM Masih Langka di Aceh Tamiang

Ilustrasi | Google
Bahan Bakar Minyak (BBM) bensin dan solar masih terjadi kelangkaan di Aceh Tamiang, hal ini terjadi sejak hari sabtu (25/6). Akibat kelangkaan BBM ini berbagai aktifitas masyarakat menjadi tersendat dan bahkan ada yang berhenti total.


Hasil pantauan, akibat kelangkaan bensin dan solar sebagian besar mobil  minibus jumbo jurusan Kualasimpang - Langsa dan Kualasimpang - Medan juga tidak beroperasi mengangkut penumpang.


Menurut salah seorang petugas SPBU Tanah Terban, Selasa (28/6), minyak bensin dan solar sebenarnya ada masuk pada sore hari kemarin, tetapi karena  sudah empat  hari masyarakat sulit mendapatkan bensin sehingga begitu masuk langsung habis, karena masyarakat memang sudang mengantri duluan.


Hasil pantauan di SPBU Tanah Terban, malam Rabu (28/6), bensin tidak dijual dalam jumlah besar, tetapi dijatah hanya dibolehkan Rp. 10.000 untuk satu sepeda motor.  Hal ini dilakukan pihak SPBU supaya semua masyarakat mendapatkan jatah bensin walaupun sedikit.


Kelangkaan minyak di Aceh Tamiang terjadi menyeluruh di semua SPBU, yaitu SPBU Manyak Payed, SPBU Tanah Terban, SPBU Kebun Tengah, SPBU Semadam dan AMPS Bukit Tempurung. Akibat kelangkaan minyak bensin di SPBU membuat harga minyak di tingkat eceran naik melambung mencapai harga Rp 8.000 - 10.000 per liter.

Sumber : Suara-Tamiang.com

Bilal Mesjid Temukan Magazen

Ilustrasi | Google
Satu magazen berisi 13 butir peluru jenis SS1 ditaruh di atas Alquran yang diletakkan di atas mimbar Masjid Baburahman Desa Pahlawan, Kecamatan Karang Baru,  Aceh Tamiang, Selasa (28/6) siang.

Magazen yang ditutupi kain berwarna hitam itu ditemukan bilai masjid, Maimun  (80). Saat itu bilal hendak membersihkan mimbar menjelang shalat dhuhur.Namun ia kaget saat membuka kain berwarna hitam yang menutupi kitab suci Alquran, ternyata ada  magazen yang berisi peluru. Hasil temuan tersebut dilaporkannya kepada Polisi.

Kapolres Aceh Tamiang AKBP Drs Armia Fahmi kepada Serambinews.com, membenarkan  penjaga masjid Baburahman menemukan magzane berisi  peluru aktif. "Magazen berisi 13 butir peluru jenis senjata SS1. Sekarang sudah diamankan dan sedang diselidiki siapa pemiliknya,"  ujar Kapolres.
Sumber : Muhammad Nasir | Serambi Online

Seni Budaya Tamiang Berprestasi di Tingkat Nasional

Foto | M. Hanafiah / Wasapada
Sebelum Kabupaten Aceh Tamiang terbentuk sudah sering seni budaya Tamiang ikut tampil membawa harum Kabupaten Aceh Timur. Sejak terbentuknya Kab. Aceh Tamiang pada tanggal 2 Juli 2002 setelah berpisah dengan kabupaten induk (Kab. Aceh Timur), Tim Kesenian Kab. Aceh Tamiang dalam mengikuti berbagai pegelaran dan lomba di bidang seni budaya sudah berulangkali tampil sangat bagus mengukir prestasi yang gemilang, sehingga membawa nama harum dan kebanggaan bagi Kabupaten Aceh Tamiang maupun bagi Provinsi Aceh.

Misalnya saja ketika Kab. Aceh Tamiang dipercaya untuk mewakili Provinsi Aceh untuk mengikuti Festival Budaya Melayu Se-Dunia yang diikuti seluruh dunia yang punya akar budaya Melayu berlangsung pada tahun 2004 di Pekan Baru, Riau. Tim Kesenian Aceh Tamiang ketika itu tampil sangat luar biasa dan menjadi Tim Kesenian yang paling favorit disambut meriah ribuan penonton ketika Tim Kesenian ikut parade dan ketika tampil di panggung seni budaya Raja Ali Haji yang terkenal dengan hasil karyanya “Gurindam Dua Belas” itu.

Ketika Tim Kesenian tampil di Pekan Baru, Riau itu ribuan penonton mengelu-ngelukan penampilan tim yang datang dari Bumi Muda Sedia itu. Malahan ketika jadwal Tim Kesenian tampil sudah habis pada waktu itu, ternyata ribuan penonton dan Gubernur Riau waktu itu yang ikut menyaksikan pagelaran pada malam itu meminta agar Tim Kesenian Aceh Tamiang agar tampil lagi untuk membawakan “Tari Tangan Seribu” atau yang lebih dikenal dengan nama “Tari Saman” itu.

Selain itu lagi ketika Tim Kesenian Aceh Tamiang ikut tampil di Pekan Kebudayaan Aceh (PKA-III) pada tahun 2004 silam juga mendapat sambutan hangat dan gemuruh dari ribuan penonton yang membanjiri Taman Ratu Safiatuddin di Banda Aceh. Penonton terkesima dengan seni budaya Tamiang yang ditampilkan Tim Kesenian Kabupaten Aceh Tamiang, baik seni tari, seni silat tradisi, seni qasidah/rebana dan adat turun tanah mengayungkan anak bayi serta mencukur rambut bayi.

Bahkan seni silat tradisi Tamiang yang mengandalkan seni bila diri gerakan-gerakan silat dilengkapi dengan senjata tajam berupa pedang dan pisau yang sangat tajam serta toya (tongkat) yang terbuat dari besi yang dimainkan oleh pendekar-pendekar seni silat tradisi Tamiang yang diketahui Nukman itu sempat membuat penonton menarik nafas dan tampak tegang karena mel;ihat penampilan duel para pendekar seni silat tradisi Tamiang itu, bahkan terlihat “bunga-bunga api” bergemericik ketika toya sesama pendekar silat yang saling baku hantam itu berbenturan ketika mereka tampil luar biasa, terlibat baku hantam duel di atas pentas utama Taman Ratu Safiatuddin pada malam itu, akhirnya seni silat Tradisi Tamiang tampil sebagai juara I di PKA III.

Tim Kesenian Aceh Tamiang juga sudah pernah tampil berulangkali mewakili Provinsi Aceh di Festival Budaya Melayu Nusantara di Palembang, tampil mewakili Provinsi Aceh di Jakarta Convention Centre (JCC) pada tahun 2009, tampil mewakili di Provinsi Aceh pada acara Temu Taman Budaya se-Indonesia di Padang, Sumatera Barat pada tahun 2009.

Sedangkan pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA V) tahun 2009, Tim Kesenian Aceh Tamiang menampilkan seni tari yang memotret dari legenda cerita “Elang Lekak” meraih prestasi yang sangat membanggakan bagi Kab. Aceh Tamiang karena mampu meraih juara I seni tari Tradisi di Taman Budaya Aceh (TBA) di Banda Aceh.

Tahun 2010 Tim Kesenian Aceh Tamiang juga tampil mewakili Provinsi Aceh di kancah Festival Seni Budaya Melayu se-Nusantara yang juga diikuti negara rumpun-rumpun Melayu itu. Pada event tersebut Tim Kesenian Aceh Tamiang kembali mengukir prestasi cemerlang, Aceh Tamiang tampil sebagai juara I seni tari.

Selain berjaya di bidang seni budaya tersebut di atas, kebupaten yang dijuluki sebagai “Bumi Muda Sedia” itu juga mampu berkiprah mengukir prestasi di bidang seni budaya yang sangat religius yaitu seni qasidah yang bernafaskan Islam. Pada lomba qasidah yang diselenggarakan Lembaga Seni Qasidah Indonesia (lasqi) Provinsi Aceh di Banda Aceh, Tim Lasqi Kab. Aceh Tamiang pada tahun 2010 mampu meraih prestasi vakalis Dewasa Putra atas nama Khairil Fauzan, Spsiyang meraih juara I Tingkat Provinsi Aceh yang mewakili Provinsi Aceh mampu meraih prestasi masuk 10 Besar di tingkat nasional, sehingga Khairil Fauzan diundang oleh Dewan bahasa dan Pustaka Malaysia untuk tampil pada Ulang Tahun lembaga tersebut di negeri jiran, Malaysia itu. Sedangkan vokalis remaja putri Nurjanah meraih juara harapan I, namun untuk vokalis anak-anak putri meraih juara I atas nama Jihan Afifah.

Pada tahun 2011, Lasqi Kab. Aceh Tamiang yang diketuai oleh Hj. Siti Rahmah A. Latief, kata Wakil Ketua Lasqi Aceh Tamiang Hj. Nafsiah, S.Pd, Lomba vokalis Qasidah untuk tingkat Provinsi Aceh ternyata untuk anak-anak putri Aceh Tamiang atas nama Jihan Afifah tampil sebagai juara I, untuk remaja putri atas nama Nurjanah tampil sebagai juara II, untuk dewasa putra atas nama Khairan Nadia, S.Pd meraih juara II, untuk dewasa Putri atas nama Lailisma Sofa meraih juara harapan I dan untuk anak-anak putra Zulkifli meraih juara harapan I.

Semua prestasi itu dapat tercapai karena adanya pembinaan dan dukungan pihak Pemkab Aceh Tamiang terhadap pelestarian seni budaya di Kab. Aceh Tamian. Pembangunan di bidang seni budaya Aceh Tamiang tampak semakin maju dan berkibar sampai ke tingkat nasional.

Sumber : Muhammad Hanafiah | Harian Waspada

Seni Budaya Aceh Tamiang Semakin Maju

Written By Suara Tamiang on Selasa, 28 Juni 2011 | 07.52

Foto | Harian Waspada
Indonesia adalah negara yang memiliki banyak suku bangsa dengan berbagai macam akar budaya dan adat istiadat yang sangat berbeda-beda. Sebagaimana diketahui, budaya dan kebiasaan suatu bangsa yang khas adalah salah satu ciri yang spesifik untuk membedakan antara satu suku bangsa dengan suku bangsa lainnya, sehingga muncullah nilai-nilai persamaan dan perbedaan antar budaya yang sangat menarik ditampilkan, dievaluasi dan dilestarikan sebagai khazanah seni budaya dan adat suatu bangsa atau etnis, seperti halnya adat dan seni budaya perkauman Tamiang yang merupakan salah satu perkauman yang ada di Provinsi Aceh.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang yang dipimpin Bupati Drs. Abdul Latief dan wakilnya H. Awaluddin, SH, SpN, MH bersama instansi terkait dijajarannya serta Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang Ir. Rusman bersama Wakil Ketua Nora Idah Nita, A.Md, Wakil Ketua Drs. H. Armand Muis serta seluruh anggota DPRK Aceh Tamiang memang sangat peduli terhadap pelestarian nilai-nilai seni budaya yang ada di kabupaten yang dijuluki sebagai Bumi Muda Sedia itu.

Buktinya, sangat banyak aktivitas di bidang seni budaya yang mendapat dukungan sepenuhnya dari Pemkab Aceh Tamiang dan pihak terkait lainnya, baik yang digelar di Aceh Tamiang, maupun mengirim utusan Tim Kesenian Aceh Tamiang untuk tampil di Tingkat Provinsi Aceh maupun di tingkat nasional. Hasilnya pun jelas nyata, Tim Kesenian Aceh Tamiang selalu tampil sebagai provinsi maupun nasional.

Bukan saja mengirimkan utusan Tim Kesenian untuk tampil mengikuti berbagai lomba di tingkat provinsi dan nasional, tetapi          Pemkab Aceh Tamiang bersama instansi/lembaga terkait lainnya juga sangat concern dalam pelesta-rian nilai-nilai seni budaya lokal yang memang harus dilestarikan keberadaannya agar tidak musnah ditelan zaman glo-balisasi yang telah menggerogoti sendi-sendi nilai seni budaya lokal.

“Kekayaan seni budaya adalah khazanah kekayaan yang tiada ternilai harganya. Kekayaan seni budaya sudah sepatutnya kita tampilkan sebagai kebanggaan akan ciri-ciri khas suatu daerah, dunia moder-nisasi yang kita rasakan pada saat ini, justru lahir dari sebuah kehidupan tradisional di mana adat dan budaya lahir sebagai ciri khas sebuah suku atau daerah, makanya nilai-nilai pelestarian seni budaya harus terus menerus kita jaga agar tridak punah,” tutur Bupati Aceh Tamiang Drs. H. Abdul Latief kepada Waspada di ruang kerjanya baru-baru ini.

Bupati Aceh Tamiang itu juga menerangkan suku perkauman Tamiang merupakan salah satu suku yang ada di Provinsi Aceh. Keberadaan adat dan budaya masing-masing suku di Provinsi Aceh yang berada di Kabupaten Aceh Tamiang diakui dan sangat terkenal memiliki tiga perkauman yaitu Tamiang, Aceh dan Gayo.

Dalam melestarikan nilai-nulai adat, seni dan budaya tradisi di Aceh Tamiang, selain tanggung jawab Pemerintah Daerah, juga lembaga lainnya seperti DPRK Aceh Tamiang, Masyarakat Adat Aceh (MAA) Kab. Aceh Tamiang, Dewan Kesenian Aceh Tamiang (DKAT) dan seluruh komponen masyarakat serta masyarakat Aceh Tamiang juga ikut bersama-sama berperan aktif dalam melestarikan adat, seni dan budaya di Aceh Tamiang.

“Tanpa peran serta semua pihak, tentu saja tidak mungkin nilai-niulai adat, seni dan budaya di daerah ini dapat dilestarikan serta tumbuh kembangkan keberadaannya,” tegas Bupati Aceh Tamiang.

Hal senada juga dikatakan Ketua DPRK Aceh Tamiang Ir. Rusman dan anggota DPRK Aceh Tamiang Elpian Raden, Syaiful Bahri, SH, Mustafa, MY, Juanda, Ismail, Marlina dan anggota dewan lainnya. Kepada Waspada Rusman mengatakan sebagai pimpinan kolektif dewan dan anggota dewan juga sangat peduli terhadap nilai-nilai pelestarian adat, seni dan budaya yang ada di Aceh Tamiang.

Apalagi, lanjut Rusman, kegiatan atau program yang dilaksanakan Dewan Kesenian Aceh Tamiang (DKAT) dan pihak lainnya memang mampu melakukan pembinaan terhadap remaja di Aceh Tamiang di bidang seni budaya. “Kegiatan yang diselenggarakan DKAT bersama Pemkab dan pihak lainnya memang sangat positif dan tentu saja kami di legislatif selalu meresponnya. Apalagi ketika mengikuti pegelaran atau perlombaan baik di Aceh maupun tingkat Nasional mampu mengukir prestasi yang dapat mengharumkan dan membanggakan nama daerah ini di bidang seni budaya,” terang Rusman.

Hal yang sama dikatakan Kadis Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kab. Aceh Tamiang Drs. Arisnur. Pihaknya sebagai lembaga terkait dengan hal-hal yang menyangkut seni budaya tetap punya komitmen yang kuat dalam hal pelestarian seni budaya di Kab. Aceh Tamiang. “Dalam hal untuk pelestarian seni budaya di daerah ini, kami selalu bermitra dengan DKAT, Aismif Universitas Syiah Kuala dan pihak lainnya dalam meles-tarikan seni budaya Tamiang,” kata Arisnur.

Semoga saja di masa mendatang Pemkab Aceh Tamiang lebih meningkatkan lagi perhatiannya terhadap pelestarian nilai-nilai seni budaya, sebab pengaruh era globalisasi tentu saja dapat mengancam nilai-nilai seni budaya lokal dan hal ini memang perlu kita antisipasi agar seni budaya Tamiang tidak punah,” kata Sekretaris DKAT dan juga pengurus bidang Humas/Publikasi Lasqi Kab. Aceh Tamiang, Muhammad Hanafiah (Agam Fawirsa) yang namanya tercatat sebagai salah seorang sastrawan Aceh yang masuk dalam buku pintar sastra budaya Indonesia pada tahun 2000 itu.

Makanya, lanjut Agam DKAT yang mendapat dukungan dari Pemkab Aceh Tamiang dan dari semua pihak yang concern terhadap pembinaan genarasi muda dan pelestarian nilai-nilai seni budaya akan terus berupaya secara maksimal dalam melestarikan dan memajukan seni budaya Tamiang.

Sumber : Harian Waspada

Lima Tipe Teman yang Dibutuhkan Perempuan

Written By Suara Tamiang on Senin, 27 Juni 2011 | 19.06

Ilustrasi | Google
Setiap orang membutuhkan teman untuk membantunya bertahan menghadapi berbagai hal. Misalnya kesengsaraan dalam pekerjaan, pernikahan, keluarga, sampai keadaan darurat fesyen.

Dalam buku berjudul The Secret Language of Girlfriends, Karen Neuburger mengungkapkan beberapa tipe teman yang dibutuhkan oleh setiap perempuan:


Teman lama

Dia orang yang meyakinkan bahwa Anda tampak cantik, bahkan meski sedang berkawat gigi, pada malam prom bertahun-tahun lampau. Saat ini, dia masih menjadi teman berbicara Anda di telepon selama berjam-jam.

Gudang

Teman jenis ini merupakan pelabuhan tepercaya bagi Anda untuk mencurahkan isi hati. Dia tahu hampir segalanya tentang rahasia terdalam Anda, mulai dari cerita kencan yang berubah menjadi bencana sampai cinta terpendam Anda.

Navigator

Dia adalah orang yang ingat untuk membawa peta ketika Anda berangkat dalam perjalanan bersama, dan benar-benar menguasai cara membacanya. Dia adalah orang yang ingin Anda andalkan ketika berbicara soal arah.

Pelatih pribadi

Dia adalah satu-satunya teman dalam tim pemandu sorak yang tidak pernah mencoba untuk terlihat lebih baik daripada Anda dalam balutan rok pendek dan pom-pom.

Sobat pesta

Dia selalu mampu membuat Anda merasa bak tamu kehormatan. Antusiasme yang ditunjukkannya berlaku tanpa syarat. Ketika Anda merasa depresi, dia akan muncul di depan pintu dan menyeret Anda keluar untuk bersenang-senang di tempat karaoke.

Pesulap Inggris Sebrangi Sungai Thames dengan Kaki Telanjang

Ilustrasi | Google
Atraksi berjalan di atas air mungkin sudah banyak dilakukan oleh para pesulap kelas dunia. Namun aksi yang dilakukan Dynamo ini jauh lebih hebat dari yang lainnya. Jika para pesulap melakukannya di kolam renang, pesulap asal Inggris ini melakukannya di sungai Thames, London, Inggris. Wow.

Dynamo, yang bernama asli Steve Frayne, 28, membuat takjub para warga yang menyaksikan aksinya dari atas jembatan Westminster Minggu (26/6). Sambil melambaikan tangannya, Frayne asyik menyebrangi bentangan sungai di depan Gedung Parlemen di London sebelum ia dijemput pkasa oleh perahu Polisi Sungai.


Aksi pesulap kelahiran Bradford tersebut dilakukan sebagai promosi acara televisi barunya yang berjudul Magician Impossible.


Frayne sejauh ini memang terkenal sebagai pesulap yang melakukan aksinya trik-trik hebatnya bersama kalangan selebriti. Di antara selebriti yang bersaksi atas kehebatannya adalah Jay-Z, Coldplay, Will Smith, Busta Rhymes dan Paris Hilton.


Sebelum melakukan trik berjalan diatas air, Frayane juga membuat aksi yangt tak kalah hebat yaitu membuat bintang cilik Inggris Matt Lucas melayang di hadapan penonton di stadion Arsenal di Stadion Emirates. Dia juga oernah mengubah tiket lotre masuk menajdi uang di hadapan penyanyi Robbie Williams dan Davina McCall.


Berbagai selebriti telah ikut ambil bagian dalam seri terbaru nya, antara lain juara tinju kelas berat David Haye, penyanyi rock Manchester Ian Brown dan bintang pop Natalie Imbruglia.


Beberapa trik spektakuler yang akan diperlihatkan Fryane dalam seri mendatang mengangkut ponsel ke dalam botol bir kaca dan mengubah salju menjadi berlian di pegunungan Austria.

Sumber : Media Indonesia Online

Polisi Kesulitan Ungkapkan Jaringan Narkoba

Ilustrasi | Google
Sindikat pengedar narkoba di Aceh Tamiang selama ini menggunakan sistem sel terputus. Sehingga, polisi kesulitan dalam melacak hingga ke akar-akarnya. “Ketika tertangkap, antara satu pelaku dengan pelaku lainnya saling tidak kenal, sehingga sulit untuk dilacak petugas,”ujar Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Drs Armia Fahmi kepada Serambi, Minggu (26/6).

Karena itu pula, Armia Fahmi mengaku personelnya hanya mampu mengungkap kasus narkoba tersebut daslam skala kecil. Katanya, pola transaksi narkoba tergolong rapi dan dengan sel terputus.”Jika kita tanyakan dari mana dapat barang haram tersebut jawaban mereka dari seseorang yang tidak dikenal,” tambah Kapolres Aceh Tamiang.

Disebutkan, jalur masuk ganja ke Aceh Tamiang lebih banyak dari Kebupaten Gayo Lues melalui Kecamatan Pinding melewati hutan menuju Kecamatan Pulau Tiga, Aceh Tamiang.

Sedangkan umur rata-rata para pengedar narkoba antar 25 sampai 40 tahun, dan umumnya mereka pengangguran tidak mempunyai pekerjaan tetap. Begitupun, menurut Kapolres Aceh Tamiang, upaya untuk memutuskan mata rantai peredaran narkoba di Aceh Tamiang akan terus dilakukan, sehingga mata rantai peredaran barang terlarang itu bisa diputuskan.

Sumber : Muhammad Nasir | Serambi Online

Tim Pansus DPRK Aceh Tamiang Tinjau Lokasi MTQ Aceh XXX

Written By Suara Tamiang on Minggu, 26 Juni 2011 | 20.50

Foto Kantor DPRK Atam | Google
Tim Pansus DPRK Aceh Tamiang turun untuk meninjau lokasi MTQ XX Aceh di Karang Baru Aceh Tamiang terdiri dari Komisi C dan Komisi D.  Anggota Tim Pansus dibawah koordinator Nora Inda Nita A.Md antara lain Hermanto, H. Syaiful Sofyan, Elpian Raden, Syaiful Bahri, SH, Juniati, Juanda, SIP, Syahrumsyah, T. Insyafuddin, ST, dan T. Amsah. 

Sementara dari pihak eksekutif, nampak hadir PPTK Proyek Pembangunan Paving Block, Drainase dan Bangunan Tribune, Ade Putra Wijaya, ST dan Ilham Ageng Pranata sebagai Pengawas Seksi Tempat dan Perlengkapan.

Di lapangan Tim Pansus menemukan masih banyak pekerjaan yang belum rampung, bahkan ada pekerjaan yang dikerjakan terkesan asal-asalan.  Salah seorang anggota Tim Pansus, T. Insyafuddin ST nampak marah melihat pembangunan mimbar MTQ yang tidak rapi dan triplek yang yang digunakan juga terlalu tipis. Dia mengatakan, “pekerjaan ini asal-asalan, tidak rapi, dan triplek yang digunakan terlalu tipis dan saya lihat seperti trilplek bekas”.

Tim pansus juga menemukan pemasangan paving block yang tidak rata dan bergelombang. Tim Pansus meminta kepada PPTK Ade Putra Wijaya untuk memerintah kontraktor yang memasang paving block memperbaiki pemasangannya.  Elpian Raden juga meminta kepada PPTK untuk tidak menerima pekerjaan yang asal-asalan dan meminta agar dananya jangan dicairkan sebelum kegiatan rampung dikerjakan.

Sumber : Suara-Tamiang.com

Delapan Pasang Remaja Berkhalwat Diamankan WH Aceh Tamiang

Ilustrasi | Google
Wilayatul Hisbah (WH) dari Kantor Satpol PP dan WH Kabupaten Aceh Tamiang melakukan patroli dan razia ke di kawasan Lapangan Golf Pertamina Rantau, Kamis (23/6). Patroli dan dan razia ini dilakukan berawal dari adanya informasi masyarakat yang memberi tahu bahwa lapangan golf milik pertamina itu sering dijadikan tempat maksiat oleh remaja putra-putri.


Dan pada saat dilakukan razia, ternyata memang benar ada remaja putra-putri yang sedang berkhalwat, ungkap Komandan Operasi Wilayatul Hisbah Kabupaten Aceh Tamiang, Doni Suharyono, S.Ag.,MH.
Dari lokasi lapangan golf tersebut pihaknya berhasil mengamankan delapan pasang remaja atau sebanyak 16 orang remaja putra-putri yang sedang berkhalwat.  Dan setelah ditangkap ke-16 orang remaja itu diangkut ke Kantor Satpol PP dan WH Aceh Tamiang untuk kemudian diberikan pengarahan dan pembinaan.


Selanjutnya kepada ke-16 remaja tersebut dibuatkan surat perjanjian di atas materai untuk tidak melakukan lagi perbuatan khalwat. Menurut Doni, ke-16 remaja tersebut merupakan siswa/i dan mahasiswa/i.
Menurut seorang masyarakat yang berdomisili di Lumpuran Rantau yang tidak mau disebut namanya, kepada suara-tamiang.com mengatakan lokasi lapangan golf tersebut memang setiap hari bahkan malam hari dijadikan tempat maksiat oleh para remaja. 


Untuk itu kami berharap agar razia dan patroli yang dilakukan WH hari ini tidak merupakan yang pertama dan terakhir, tetapi agar dilakukan secara rutin dan teratur, kami masyarakat siap untuk membantu, demikian menurut salah seorang masyarakat.

Sumber : Suara-Tamiang.com

HTI Dapat Menghidupkan Kembali Dapur Arang di Tamiang

Foto | S. Mahdi (suara-tamiang.com)
Dalam pertemuan dengan masyarakat Kampung Mesjid, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang Jumat (24/6) Wakil Gubernur Aceh,Muhammad Nazar S.Ag, mengaku priahatin dengan kondisi perekonomian masyarakat setempat, dimana banyaknya dapur arang yang selama ini menjadi sumber perekonomian warga telah tutup, hal ini imbas dari program moratorium logging diterapkan pemerintah Aceh.

Oleh karena itu, Muhammad Nazar mengatakan, solusi untuk menghidupkan kembali dapur arang adalah melalui Hutan Tanaman Industri (HTI). “Pola HTI ini tidak masuk dalam program moratorium logging,” ujar Muhammad Nazar. Menurutnya banyak sekali dapur arang yang telah tutup bahkan ada yang telah hancur dan rusak akibat telah lama tidak ada aktifitas pembakaran arang. Terjadinya penutupan dapur arang karena para pengusaha arang tidak mendapatkan izin untuk menjual arang keluar daerah atau kususnya ke Sumatera Utara.

Dampak dari tutupnya ratusan dapur arang ini mengakibatkan banyaknya pengangguran yang selama ini  menggantungkan mata pencahariannya pada mencari kayu bakau, membuat arang dan menjual arang. 

Menurut salah seorang warga yang bernama Fauzi dalam pertemuan dengan Wagub Aceh, mulai dari pencari kayu bakau, membakar arang, dan memasukkan arang ke dalam goni/kemasan saat ini semuanya sudah menganggur. Padahal biasanya mereka berpendapatan Rp 50 ribu/hari,” ujar Fauzi.


Menurut Fauzi, jumlah dapur arang yang tutup diperkirakan mencapai 235 unit, yang terdapat di Desa Meurandeh 79 dapur, Desa Seneubok Cantek 41 dapur, Kampung Mesjid 100 dapur, Matang Cincin 12, dan Alur Sentang 3 dapur.


Bustami, S.Hut, Ketua Ikatan Penyuluh Kehutanan Indonesia (IPKINDO) Kabupaten Aceh Tamiang, kepada suara-tamiang.com  mengatakan, ada dampak posisitf yang terjadi dari moratorium logging ataupun dari penutupan dapur arang di Aceh Tamiang yang jumlahnya mencapai ribuan. Hutan bakau yang dulu sudah sangat susah dijumpai yang berdiameter 5 cm ke atas, sekarang sudah mulai kita jumpai lagi. 


Mengenai himbauan HTI, menurut nya adalah sangat baik karena HTI adalah salah satu soluasi bagi masyarakat pekerja di sektor arang, dan HTI juga merupakan salah satu cara menghutankan areal yang berwawasan lingkungan, dengan catatan pelaksanaannya harus sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang telah digariskan.

Sumber : Suara-Tamiang.com

Psikolog : Kasus Kawin Sesama Jenis Mengarah pada Lesbian

Ilustrasi | Google
Terbogkarnya kasus kawin sesama jenis, yakni Sri Sunarsih alias Eriq Prakarsa Syahputra (22), warga Kompleks bekas pabrik es Petejo di Desa Buket Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, dengan Dian Mariam (21) janda kembang warga Desa Paya Bedi, Kecamatan Rantau, lebih mengarah pada penyimpangan sek alias lesbian.

Hal itu dikatakan Kepala Cabang Lembaga Psikologi Prima Personality Aceh Tamiang, Rahmah Nur Rizki S Psi, yang dimintai pendapatnya sehubungan dengan kasus kawin sesama jenis di yang terjadi di Bumi Muda Setia tersebut. Katanya, ada beberapa cici-ciri pada Sri alias Eriq yang mengarah pada prilaku penyeimpangan seksual atau lesbian antara lain, ketertarikan pada perempuan, dan berpenampilan seperti laki-laki, serta tertarik pada pekerjaan laki-laki.

Dijelaskan, cinta dan perasaan kaum lesbian lebih mendalam dibandingkan pasangan lawan jenis laki-laki dan perempuan atau  heteroseksual. Bahkan, sebut Rahmah, pasangan sejenis lebih mengetahui perasaan satu sama lain. “Cinta mereka lebih mendalam dan sangat setia biasnya mereka mengetahui kesenangan dan kebahagian pasangannya dibandingkan pasnagan normal,” ujarnya.

Menurutnya, kawin sesama jenis yang terjadi di Aceh Tamiang itu, penyebabnya antara lain lingkungan pergaulan sehari-hari, trauma psikologis dengan laki-laki, atau pernah tersakiti, serta kecemburuan terhadap pola asuh orang tua.

Berbeda dengan gadis tomboy, yang juga lebih senang berteman dengan  laki-laki, tapi tidak ada ketertarikan dengan lawan jenis hanya  memiliki temperamen dan aura kelakian saja. Menurutnya, prilaku  lesbian mudah menular kalau lingkungan terdekatnya mempunyai prilaku yang sama seperti sahabat bermain keseharian. Katanya, khusus di Indonesia sangat melarang perkawinan sesama jenis, lain halnya di luar negeri perkawinan sesama jenis dianggap legal.

Sumber : Muhammad Nasir | Serambi Online

ATCW : Mari Cegah Korupsi dari Sekarang

Ilustrasi | Google
”Mari Cegah Korupsi Dari Sekarang”, demikianlah tema yang diusung ATCW Aceh Tamiang dalam melaksanakan kegiatan Musyawarah Kerja dan Pelantikan Pengurus ATCW periode 2011 – 2016 di Aula SKB  Aceh Tamiang, Kamis (23/6) lalu.

Acara tersebut dihadiri Wakil Bupati H. Awaluddin, SH, S.Pn, Kapolres AKBP Drs. Armia Fahmi, para Kepala Badan/Dinas/Kantor dan Bagian di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. 

Adapun komposisi kepengurusan yang dilantik antara lain : Penasehat Edi Arnaldi. Hrp, Kulik, Ketua Umum Aliyandi, SH, Wakil Ketua Muhammad Zemi, SP, Cut Rahmi, Sekretaris Adi Candra, SE, Bendahara Ridwan Raden dan Koordinator Yogi dan Dedi Priyatna.

Edi Arnaldi. Hrp yang merupakan dewan pendiri sekaligus penasehat Aceh Tamiang Corruption Watch (ATCW) dalam kata sambutannya menghimbau kepada pengurus ATCW yang baru agar bekerja dengan baik, masih banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus diselesaikan, dan laksanakan pencegahan korupsi di Kabupaten Aceh Tamiang”, ungkapnya.

Pada kesempatan itu Edi Rinaldi juga meminta kepada rekanan/kontraktor dalam mengikuti lelang tender proyek, rekanan tidak perlu memberikan hadiah atau memberi sesuatu ke dinas atau panitia lelang. Biarkanlah pemenang lelang tender proyek sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan dan jangan menyuap untuk menjadi pemenang.

Harapan Aceh Tamiang Corruption Watch (ATCW) dan segenap komponen masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang “Mari sama-sama kita cegah korupsi, karena mencegah lebih baik daripada menangkap koruptor”.  Yang paling utama adalah terciptanya tata pemerintahan yang baik (Good Governance), pinta Edi Rinaldi dengan nada penuh harap.

Sumber : Rico Fahrijal
 
Support : Jasa Design Blogger Template | Free Template
Copyright © 2011. Suara Tamiang - All Rights Reserved